SEBUAH RENUNGAN
Allah yang Maha Bijaksana tidak menciptakan sesuatu melainkan di balik itu ada
hikmah yang agung. Allah ta’ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-
Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
Mungkin kita sudah hafal ayat di atas karena sering mendengarnya, tapi pernahkah
terlintas di benak kita apakah ibadah yang kita lakukan diterima ataukah tidak? Sebab tidak
ada seorang pun yang dapat menjamin hal ini, sehingga sudah seharusnya bagi tiap mukmin untuk beramal dengan senantiasa berharap agar ianya mendapat ridho Allah.
terlintas di benak kita apakah ibadah yang kita lakukan diterima ataukah tidak? Sebab tidak
ada seorang pun yang dapat menjamin hal ini, sehingga sudah seharusnya bagi tiap mukmin untuk beramal dengan senantiasa berharap agar ianya mendapat ridho Allah.
Ketika kita beribadah kepada Allah, yang kita inginkan adalah agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT. tapi sadarkah kita bahwa tidak semua amal dan ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah SWT.
- SYARAT DITERIMANYA IBADAH
Pertama: Beriman.
Allah menegaskan hal ini dalam banyak firman-Nya, di antaranya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97)
Baca juga firman Allah ta’ala dalam surat an-Nisa`: 124 dan al-Isro`: 19. Bahkan Allah
mensifati amalan orang kafir bagaikan debu yang beterbangan, sama sekali tidak bernilai dan
tidak bermanfaat di sisi Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:
mensifati amalan orang kafir bagaikan debu yang beterbangan, sama sekali tidak bernilai dan
tidak bermanfaat di sisi Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:
“Dan Kami hadapi segala amal baik yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)
Amalan mereka ibarat fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, bila ia mendatangi air itu maka tidak akan didapati sesuatu apapun. (Lihat surat
an-Nur: 39)
(bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)
Amalan mereka ibarat fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, bila ia mendatangi air itu maka tidak akan didapati sesuatu apapun. (Lihat surat
an-Nur: 39)
Kedua: Ikhlas.Allah azza wa jalla berfirman:
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)
Rasulullah n juga menegaskan hal ini dalam sabda beliau yang terkenal:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan seseorang itu hanya akan
mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari no. 1)
Maka sungguh beruntunglah seseorang yang selalu mengawasi hatinya, kemanakah
maksud hati tatkala ia beribadah, apakah untuk Allah, ataukah untuk selain Allah.
Perhatikanlah beberapa amalan berikut:
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)
Rasulullah n juga menegaskan hal ini dalam sabda beliau yang terkenal:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan seseorang itu hanya akan
mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari no. 1)
Maka sungguh beruntunglah seseorang yang selalu mengawasi hatinya, kemanakah
maksud hati tatkala ia beribadah, apakah untuk Allah, ataukah untuk selain Allah.
Perhatikanlah beberapa amalan berikut:
• Amalan riya’ semata-mata, yaitu amalan itu dilakukan agar dilihat oleh sesama atau
karena tujuan dunia. Amalan seperti ini hangus, tidak bernilai sama sekali, dan pelakunya
pantas mendapat murka Allah.
karena tujuan dunia. Amalan seperti ini hangus, tidak bernilai sama sekali, dan pelakunya
pantas mendapat murka Allah.
• Amalan yang ditujukan kepada Allah dan disertai riya’ sejak awalnya, maka dalil-dalil
shahih yang ada menunjukkan amalan seperti ini adalah batil dan terhapus.
shahih yang ada menunjukkan amalan seperti ini adalah batil dan terhapus.
• Amalan yang ditujukan bagi Allah dan disertai niat lain selain riya’. Seperti jihad
yang diniatkan untuk Allah dan karena menghendaki harta rampasan perang.
Amalan seperti ini berkurang pahalanya dan tidak sampai batal dan tidak sampai
terhapus amalnya. (Jami’ul ‘ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali)
yang diniatkan untuk Allah dan karena menghendaki harta rampasan perang.
Amalan seperti ini berkurang pahalanya dan tidak sampai batal dan tidak sampai
terhapus amalnya. (Jami’ul ‘ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali)
Ketiga: Mutaba’ah yaitu mencontoh ibadah Rasulullah SAW.
Ketahuilah, bahwa kita tidak boleh melakukan amalan tertentu dan
menganggapnya sebagai ibadah kecuali bila ada dalil yang menerangkan bahwa
amalan itu disyari’atkan. Dan perlu diketahui pula bahwa ibadah bukanlah produk
akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan sesuatu yang diridhoi Allah,
dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhoi Allah kecuali setelah Allah
kabarkan atau dijelaskan Rasulullah SAW. Dan seluruh kebaikan telah diajarkan Rasulullah SAW, tidak tersisa sedikit pun.
menganggapnya sebagai ibadah kecuali bila ada dalil yang menerangkan bahwa
amalan itu disyari’atkan. Dan perlu diketahui pula bahwa ibadah bukanlah produk
akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan sesuatu yang diridhoi Allah,
dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhoi Allah kecuali setelah Allah
kabarkan atau dijelaskan Rasulullah SAW. Dan seluruh kebaikan telah diajarkan Rasulullah SAW, tidak tersisa sedikit pun.
- Syarat yang perlu dilakukan agar ibadah kita tidak sia sia
1. Kita perlu berusaha
Oleh karena itu, kita perlu berusaha bagaimana caranya agar amalan atau ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah SWT. Karena masalah diterima tidaknya ibadah yang kita kerjakan tergantung Allah SWT
2. Selain itu kita juga tidak boleh mengkritik amalan yang dikerjakan oleh orang lain
Karena kita belum tau ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah atau tidak.
Ketika Allah SWT menggariskan sebuah perkara ibadah, Allah juga mengariskan tata cara perkara ibadah tersebut. Agar kita bisa mengikuti perkara dalam ibadah tersebut kita juga harus mengikuti aturan tata cara yang telah digariskan oleh Allah
3. Kita boleh berinovasi dalam perkara dunia, tetapi kita tidak boleh berinovasi dalam perkara agama
Karena kita sebagai seorang muslim di tuntut untuk sami'na wa ato' na, yaitu mengikuti apa yang digariskan oleh Rasulullah SAW dalam perkara ibadah.
'
4. Ibadah atau amalan yang kita kerjakan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW
Dalam hadis yang sohih yang di riwayatkan oleh imam muslim
"Barang siapa yang melakukan amalan, yang tidak ada contohnya dariku. Maka amalannya akan ditolak"
5. Ikhlas dalam beribadah
Allah SWT berfirman dalam surah Al Bayinah ayat 5
"Kita tidak diperintahkan oleh Allah kecuali untuk mengikhlaskan ibadah kita hanya untuk-Nya"
Dalam artian disini kita harus ikhlas kepada Allah dalam beribadah atau melakukan amalan lainnya.
6. Ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah,
syarat ini yang menjadikan ibadah kita diterima oleh Allah.
Dan semoga ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah SWT.
Referensi
Ustadz Abdullah Zaen, MA - Agar Ibadah dan Amal Tidak Sia-Sia
,dan Sofyan Hadi
Baca Juga Berikut Ini:


0 Response to "Agar "IBADAH dan AMAL" Kita Tidak Sia- Sia"
Posting Komentar